Kaltim

Siap Penuhi Kebutuhan Material Ibu Kota Negara

Produksi Batu Pecah di PPU

Aktivitas penambangan batu pecah BMB di Babulu Darat, PPU (ist)

BALIKPAPAN-Tak hanya sebagian wilayahnya yang ditetapkan sebagai lokasi ibu kota negara yang baru, Penajam Paser Utara (PPU) juga siap memenuhi kebutuhan material guna mendukung pembangunan infrastruktur. Khususnya material batu pecah atau split, batu pondasi hingga batu agregat.

Hal itu sejalan dengan beroperasinya penambangan batu di kawasan Babulu Darat, PPU oleh PT Batu Marmer Borneo (BMB) sejak enam bulan lalu.

“Selama ini, kebutuhan material terutama batu, mengandalkan produksi luar daerah tapi kini khususnya PPU juga mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Harapannya, pemindahan ibu kota negara ke Kaltim menjadikan produk lokal dan pelaku usaha lokal menjadi tuan di rumahnya sendiri,” seru Direktur Utama Suroto Nurwahid, dijumpai di ruang kerjanya, Jalan Soekarno Hatta Km 5, Balikpapan Utara, Senin (2/9/2019).

BMB merupakan produsen material batu jenis agregat yang diperuntukkan pengerasan jalan, batu pondasi dan batu pecah terdiri ukuran 0,5×1 cm untuk pengaspalan, 1×2 cm, 2×3 cm, 3×4 cm untuk beton dan ukuran 5×7 untuk bantalan kereta api.

Jarak tempuh dari lokasi tambang ke pusat ibu kota negara yang cukup dekat memungkinan harga materialnya lebih bersaing dibanding memasok dari luar pulau. Yakni hanya 60 Km ke Sepaku dan 40 Km ke pelabuhan PPU. Dan yang paling penting, BMB turut menyerap tenaga kerja lokal dan berkontribusi positif terhadap pendapatan asli daerah (PAD) PPU.

Dia menjelaskan, saat ini volume produksinya disesuaikan dengan jumlah permintaan. Dengan total 50 kubik rata-rata per hari. Itu belum termasuk produksi batu pondasi.

Jumlah itu dipastikan meningkat seiring tingginya kebutuhan. “Luas lahan yang kami kelola saat ini 35 hektare dengan cadangan 5 juta meter kubik tapi potensi lahan yang bisa dikembangkan hingga 100 hektare dengan total cadangan 15 juta meter kubik. Itu artinya, kami siap memenuhi berapapun kebutuhan,” pukaunya didampingi Direktur Teknik dan Pengembangan Joko Darmanto serta Direktur Keuangan dan Pemasaran H Sukardi.

Tambang yang dikelola, sambung Suroto karib ia disapa, juga potensi untuk memproduksi marmer. Hanya saja tingkat produksinya belum dioptimalkan. “Baru tahap uji coba baru kemudian disertifikasi. Kalau sudah ada permintaan, produksi dengan mudah dapat ditingkatkan.

Yang jelas kualitasnya lebih bagus. Bahkan, Tulung Agung sebagai sentra produksi marmer mengakui, kualitas marmer kami lebih baik karena lebih keras, lebih padat dan mengandung minyak yang membuatnya jadi lebih mengkilat ketika dipoles,” gebunya bangga.

Lanjut dia menerangkan, PPU merupakan penyerap utama produksinya. “Kami memang belum menjangkau pasar di Balikpapan karena terbebani biaya transportasi yang mahal,” akunya.

Ia pun berharap pemindahan ibu kota menjadi momentum bagi produk material lokal memacu penetrasi pasar. (run)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top