Ekbis

Incar Pasar Afrika Utara dan Malaysia

Didid Hamid dengan produk kopi siap ekspor (foto:kotaku.co.id/run)



Kalau tidak ada aral, kopi produksi pelaku usaha Kota Balikpapan akan beredar di Afrika Utara dan Malaysia. Jaringan sedang dibentangkan, persyaratan sebagai eksportir pun sudah dipenuhi.

Hainan Coffee, demikian merek kopi yang hendak diekspor Didid Hamid, pemilik usaha Deli Koffie Indonesia yang bermarkas di Ruko Balikpapan Baru. “Saat ini dalam tahap negosiasi,” kata Didid Hamid dijumpai di ajang Perdagangan Indonesia-Malaysia, di Grand Jatra Hotel, belum lama ini.

Deli Koffie Indonesia merupakan produsen kopi yang didirikan untuk mengakomodasi permintaan kopi berkualitas tinggi. Itu karena diproses dengan komitmen untuk menghasilkan kopi berkualitas dengan cita rasa luar biasa. Dimulai dari perkebunan yang dikelola dengan baik sampai proses setelah panen. Kemudian diperkuat dengan laporan hasil uji citarasa oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Adapun perkebunan berada di kawasan Gunung Ijen Raung, Bondowoso, Jawa Timur. Di atas ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (MDPL). Itu untuk kopi Arabika. Ada juga perkebunan kopi Robusta terletak di Gunung Argopuro, Jember dengan ketinggian 800-1.200 MDPL. Kapasitas produksi mencapai 3.500 ton per triwulan terdiri biji kopi Arabika dan Robusta. Ada juga biji kopi sangrai dengan kapasitas produksi 18 ton per bulan untuk segmen hotel, cafe dan restoran.

Hainan Coffee merupakan satu dari total 13 produk kami yang ia produksi.

Membidik pasar luar negeri karena produksi kopi Didid diklaim sudah cukup kuat menguasai pasar di tanah air. Seperti di Balikpapan, Tarakan, Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Malang dan Bali. Segmentasi utamanya sektor perhotelan. Di Balikpapan dan Tarakan, rata-rata volume pesanan mencapai 30-50 kilo gram (Kg) per bulan untuk setiap hotel. Urutan kedua, segmen pelanggannya berasal dari industri cafe baru kemudian end user.

Dalam persiapan menuju pasar internasional, ia telah melakukan berbagai persiapan. Mulai pelatihan yang digelar Dinas Perdagangan Kota Balikpapan kemudian dokumen berupa izin eksport, sertifikasi, Good Manufacturing Practice Document, sertifikasi halal khusus untuk pasar yang didominasi kalangan muslim hingga label Standart Nasional Indonesia (SNI). Ya, Didid satu dari delapan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Kota Balikpapan yang dipersiapkan pemerintah kota untuk menembus pasar internasional.

“Tinggal barcode, rencananya ada pelatihan terkait itu Januari 2020,” ulasnya. Ia pun menargetkan tahun 2020, pengiriman perdana akan dimulai. Tak hanya kedua negara tersebut, Didid juga mengincar pasar China. (run)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top