Ekbis

Penolakan Berbuah Kesuksesan

Ansori, Pengusaha Sukses Abon Kepiting

Ansori dengan produk andalannya Bontings (foto:net)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Bermula dari hobi melaut, seorang pria asal Rembang, Jawa Tengah sukses menekuni bisnis kuliner. Adalah Ansori pemilik usaha produk makanan abon kepiting khususnya dari jenis kepiting rajungan. Produk tersebut kemudian dikenal dengan merek Bontings. “Saya hobi mancing, karena sering mancing di laut, saya jadi tahu pasokan kepiting rajungan berlimpah, cukup mudah ditemukan di perairan Kota Balikpapan, akhirnya kepikiran untuk dijual,” ujarnya memutar ingatan saat ditemui kotaku.co.id di rumah produksinya, kawasan Manggar, Rabu (8/1/2020).

Ide cemerlangnya mendulang rupiah. Kepiting rajungan dijual tak hanya di dalam tapi juga ke Pulau Jawa. Apalagi di luar sana taksiran harga kepiting rajungan cukup tinggi dibanding di dalam kota.

Di tengah masa keemasannya, tiba-tiba 350 kilo gram (Kg) kepiting rajungan mendapat penolakan saat hendak dikirim ke Pulau Jawa. “Saya bingung mau diapakan kepiting sebanyak itu, kemudian muncul lagi ide. Kali ini dibikin abon supaya tidak Mubazir,” serunya kembali mengenang.

Idenya kemudian dituang dalam sebuah karya. Ia pun berburu ilmu cara membuat abon. “Cari resep dibuku karena saat itu belum ada YouTube seperti sekarang,” kelakarnya.

Tahun 2005 merupakan debutnya dalam menjalankan bisnis abon kepiting. Tak sekadar membangun usaha ia pun memperkenalkan produknya melalui jalur singkat tapi punya daya ungkit tinggi yakni berkompetisi dengan mengikuti lomba produk oleh-oleh khas Balikpapan yang digelar Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Disperindakop)-namanya kala itu-tahun 2006 lalu.

Bontings pun sukses merebut gelar juara. Itu karena Bontings dianggap sebagai produk inovatif, bahkan merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan konon di dunia. Dan benar saja, ajang tersebut secepat kilat melambungkan namanya. Bontings menjadi produk yang semakin diminati masyarakat bahkan menjelma menjadi produk oleh-oleh khas Kota Balikpapan. Itu sesuai tujuan utama digelarnya kompetisi. Kiprahnya berlanjut dengan mengikuti berbagai kegiatan pameran produk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Baik di dalam kota maupun di tingkat nasional.

“Dan Alhamdulillah, Bontings masih bertahan sampai hari ini. Itu semua berkat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat,” tutur Ansori. Untuk meningkatkan volume penjualan, ia kemudian membangun kerja sama dengan banyak pihak.

Sayang sejak tiga tahun terakhir, tingkat penjualannya terpengaruh. Ketentuan bagasi berbayar dan naiknya ongkos kirim dari penyedia jasa kurir, memberi dampak buruk bagi usahanya yakni penjualan yang menunjukkan tren turun. Tak main-main, penurunannya mencapai 50 persen. Kontan saja, jumlah produksi ikut berkurang.

Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) yang baru di Kaltim, Ansori juga menaruh harapan besar. Utamanya terhadap penjualan. “Kami optimis dan akan tetap mempertahankan Bontings sebagai (produk) khas Balikpapan,” pungkasnya. (qis)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top