Parlementaria

Dihadapan Komisi II DPRD Balikpapan, Pedagang Suarakan Unsur Tradisional

Dari Rencana Penyegaran Pasar Inpres Kebun Sayur

Kepala Dinas Perdagangan Arzaedi Rachman (kiri) memaparkan rencana revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur dihadapan Komisi II DPRD Kota Balikpapan serta pedagang setempat, Senin (20/1/2020) (foto:kotaku.co.id/run)



KOTAKU, BALIKPAPAN-Pemerintah Kota Balikpapan dikabarkan akan merevitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur, pusat oleh-oleh andalan wisatawan.

Terkait itu, penting bagi Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan yang membidangi Ekonomi, Anggaran, Pariwisata dan Perdagangan, mendengar aspirasi pedagang setempat lewat kunjungan yang digelar Senin (20/1/2020).

Hasilnya, sejumlah pedagang mengaku mendukung rencana tersebut. Tapi yang menjadi pertanyaan besar para pedagang apalagi kalau bukan konsep pengembangannya.

“Harga kios hasil revitalisasi harus sesuai dengan isi kantong pedagang. Kedua jangan sampai konsepnya nanti menghilangkan kesan tradisional Pasar Inpres dan yang paling penting TPS (tempat penampungan sementara, Red) saat pembangunan nanti, di mana dan berapa lama,” cecar Ketua Pedagang Pasar Inpres Kebun Sayur H Muhammad Mahmud usai berdialog dengan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan Mieke Henny beserta rombongan, Senin (20/1/2020).

Dia melanjutkan, rentang waktu pedagang berjualan di TPS mendesak untuk diketahui karena berbekal pengalamannya, yang mengaku tak aman. “Terkadang juga proyeknya molor. Janjinya tiga tahun ternyata sampai lima tahun. Ini pengalaman kami di depan (Plaza Kebun Sayur, Red),” ungkapnya.

Setali tiga uang, Ketua Pemuda Pasar Inpres Kebun Sayur Noval mengatakan dalam menentukan konsep pembangunan, suara pedagang setempat diharapkan dapat terakomodir.

Nanik pemilik Toko Halim yang menyediakan aneka cendramata khas Kalimantan menimpali, kesan tradisional elemen penting dalam upaya perbaikan Pasar Inpres Kebun Sayur. “Justru karena bentuknya tradisional makanya banyak wisatawan (belanja) kemari,” tuturnya berpendapat.

Ia khawatir, sentuhan modernisasi akan membuat kawasan tersebut ditinggalkan konsumen setianya. “Contohnya di Plaza Kebun Sayur, saya punya kios di lantai atas, sejak buka sampai sekarang sepi. Bahkan sekarang saya gratiskan (biaya sewa), cuma bayar administrasi saja ke pengelola, ada yang tempati tapi paling lama tiga bulan, pergi lagi, karena sepi (pengunjung),” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perdagangan Arzaedi Rachman menerangkan, rencana penyegaran kawasan tersebut diawali dengan penyusunan konsep sekira Februari mendatang oleh PT Gusher Mitra Sejahtera selaku pemrakarsa sekaligus pengembang Plaza Kebun Sayur.

“Ada rencana dalam pengembangannya akan dibangun skybridge (jembatan multiguna, Red) yang menghubungkan Pasar Inpres Kebun Sayur dengan Plaza Kebun Sayur,” ungkapnya. Namun dia menegaskan, sebelum konsep dinyatakan valid, akan sosialisasikan terlebih dahulu dengan pedagang setempat.

Setelah itu, barulah masuk dalam tahap “Beauty Contest”. Dengan kata lain, adu konsep tersebut terbuka untuk seluruh investor.

Sementara itu, Mieke Henny tampak sependapat dengan suara sejumlah pedagang yang menginginkan citra tradisional Pasar Inpres Kebun Sayur tetap dipertahankan. “Kalau investor orientasi selalu untung,” celetuknya.

Karenanya ia berharap, pemerintah menangkap keinginan sebagai bentuk kehadiran dan keberpihakan kepada masyarakat. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top