Ekbis

Kesuksesan Olahan Salak Kilo, Didorong Ekspansi ke Makassar hingga Go Internasional

Pemilik Salak Kilo, Riswah Yuni dengan aneka produk olahannya (foto:kotaku.co.id/run)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Melimpahnya komoditas buah salak yang dikembangkan para petani kawasan Soekarno Hatta Kilo Meter (Km) 21, memacu adrenalin Riswah Yuni untuk membangun usaha. Ia kini dikenal sebagai pemilik usaha oleh-oleh khas Balikpapan yakni Salak Kilo yang dirintis sejak tahun 2012. Ia pun membuka gerai di kawasan Pasar Buton Km.4,5 Balikpapan Utara. “Selain karena pasokannya melimpah saya juga ingin mengangkat produk lokal,” tutur Yuni sapaan akrabnya ditemui di outletnya, Kamis (30/1/2020).

Salak Kilo merupakan merek aneka olahan buah salak. Mulai cake salak, brownies, sambal salak, cookies salak dan lainnya.

Dia menerangkan, debutnya diawali dari keikutsertaannya di ajang lomba makanan khas Balikpapan yang digelar Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop)-namanya kala itu- dan keluar sebagai pemenang pertama. Dari situ Yuni terus berinovasi dan menghasilkan sekira 15 produk yang berbahan dasar salak yang hingga kini menjadi produk andalannya. “Tekstur ‘crunchy’ nya banyak yang mengira kalau itu daging buah kelapa ternyata salak,” ujar alumni SMKN 1 Balikpapan seraya melempar tawa. Lewat usahanya, Yuni berhasil membuka lapangan kerja bagi 10 tenaga lokal.

Tidak hanya salak, lada atau merica juga menjadi produk andalan di gerainya. Itu karena sejumlah petani setempat menjadikannya sebagai komoditas tanam.

Ia pun menargetkan cookies salak dan merica produksi petani lokal bisa go internasional. Karena selain memajukan dan mensejahterakan petani, juga mengangkat produk lokal khas Balikpapan. “November 2019 lalu kami mengikuti Trade Expo Indonesia di Jakarta dan beberapa buyer potensial ada yang tertarik,” ucapnya antusias.

Lebih dari itu, untuk membangun kecintaan masyarakat yang lebih besar terhadap produk olahannya, Yuni membuka kelas memasak di gerainya. Cocok untuk semua kalangan. Mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Tak berhenti sampai di situ, karena ia berencana membangun sebuah kawasan edukasi tanaman salak. Mulai pembibitan hingga pengolahan. Sarana itu diyakini akan berdampak positif bagi lingkungan sekitar. “Terutama mensejahterakan petani salak, juga rumah bagi anak yatim,” ucapnya optimis.

Kesuksesannya memantik perhatian keluarga dan para kerabatnya. Yuni didorong untuk melakukan ekspansi ke daerah lain seperti Makassar yang juga penghasil salak terbesar. Terkait itu, ia mengaku masih mempertimbangkan. “Karena tidak mudah untuk mempertahankan sesuatu yang dimulai dari nol,” tuturnya tenang. Namun ia berharap, kerja kerasnya selama ini dapat menjadi manfaat dan menginspirasi bagi orang banyak. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top