Ekbis

Dikuasai Kebutuhan Industri, Penerimaan Bea dan Cukai Kalbagtim Bebas Efek Virus Corona

Media gathering Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalbagtim, Rabu (12/2/2020) (foto: kotaku.co.id/ist)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Didominasi kebutuhan industri, virus Corona yang mewabah di sejumlah negara dipastika tidak mempengaruhi penerimaan bea masuk barang impor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kaltim Bagian Timur (Kalbagtim).

“Kalau pun ada barang konsumsi tidak akan memberi dampak langsung karena kirimannya bersifat antarpulau. Masuknya melalui Jakarta dan pulau Jawa,” kata Kepala Seksi Penerimaan dan Pengelolaan Data Eko Cahyo Wahyu Nugroho saat Media Gathering yang digelar di Hotel Max One, Rabu (12/2/2020).

Karenanya, lanjut dia menerangkan, hingga saat ini belum ada pelaku usaha yang menunda importasi. Pun begitu dengan pembatasan barang impor, efek penyebaran virus Corona, hingga saat ini tidak dilakukan. Hanya saja, layanan pemeriksaannya bertambah. “Secara regional tidak ada pembatasan tapi ada pemeriksaan tambahan yakni proses sanitasi terhadap seluruh barang masuk,” imbuhnya.

Sebaliknya, tatkala industri andalan Kaltim jeblok, saat itu juga penerimaan bea masuk dan bea keluar mengalami impresi alias terpengaruh secara mendalam.

Disebutkan, tahun ini, target himpunan penerimaan dipatok naik 1,01 persen dari realisasi tahun 2019. Adapun total penerimaan tahun lalu sebesar Rp 606 miliar dari Rp 628 miliar target yang dibebankan kala itu. Dari jumlah itu, penerimaan bea masuk mencapai Rp 572 miliar dari target Rp 609 miliar. “Karena harga komoditas tahun 2019 mengalami penurunan otomatis produksi terpengaruh sehingga barang masuk berupa peralatan penunjang industri juga berkurang,” terang Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat M Arief Rahman.

Tercatat, penerimaan bea masuk tahun 2019, masih ditopang penunjang industri batu bara seperti alat berat, sparepart dan ban. Pun begitu untuk penerimaan bea keluar, CPO kembali memberi andil terbesar disusul ikan, kayu semi olahan dan produk kimia.

Penerimaan lainnya berasal dari bea keluar, mencapai Rp 33 miliar dan cukai sebesar Rp 1,4 miliar dari Rp 679 juta yang ditargetkan. “Pengenaan cukai dari cairan rokok elektrik (vape) yang dipungut dari dua produsen masing-masing di Samarinda dan Balikpapan,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top