Corak

Potret Miniaturnya Indonesia dalam Pawai Budaya

Edisi HUT 123 Balikpapan, Dimeriahkan 59 Paguyuban dan Sanggar Tari

Para peserta pawai saat tiba di podium disambut hangat Wali Kota Balikpapan HM Rizal Effendi (foto: kotaku.co.id/humas pemkot)
Leo Sukoco

KOTAKU, BALIKPAPAN-Bukan karena pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang baru ke Kaltim tapi sejak dulu, Balikpapan sudah dikenal dengan keanekaragaman budaya dan masyarakat yang hitirogen. Wujud keberhasilan membangun kebersamaan tersebut tercermin dalam pagelaran pawai budaya yang digelar Minggu (23/2/2020) edisi HUT ke 123. Betapa tidak ada 59 paguyuban dan sanggar tari dengan total 2 ribu peserta, memeriahkan pawai. Mengambil start di Lapangan Merdeka dan finish di balaikota. Mulai pukul 14.30 Wita siang tadi. “Balikpapan miniaturnya Indonesia, melalui kegiatan ini Balikpapan berhasil membangun kebersamaan dalam keanekaragaman budaya maka tidak salah Balikpapan kota penyangga IKN,” seru Ketua Panitia Pawai Budaya sekaligus Ketua Paguyuban Balikpapan Leo Sukoco ditemui sesaat sebelum acara. Tak hanya dalam kota, pawai budaya kali ini juga menyedot animo paguyuban dari luar daerah. Yakni paguyuban warga Lombok asal Kutai Kartanegara (Kukar).

Dia menjelaskan, dalam ajang tersebut, peserta tidak saja menonjolkan seni dan budaya masing-masing daerah tapi juga menampilkan kreativitas dalam berbagai bingkai tanpa menggunakan kendaraan bermotor. Peserta yang memiliki keunikan, kekompakan dan kental akan kreativitas akan mengantongi gelar terbaik dan hadiah sebagai bentuk apresiasi.

Rupanya tak hanya peserta, gelombang antusias juga ditunjukkan warga terhadap perhelatan rutin tahunan tersebut. Pantauan Kotaku.co.id, warga berbondong-bondong memadati kawasan Lapangan Merdeka dua jam sebelum pawai budaya dimulai.

Arema Balikpapan salah satu peserta yang paling menyita perhatian. Terutama patung Beruang Madu yang menjadi ikon Kota Balikpapan. Sebab tak seperti biasanya, patung Beruang Madu yang diboyongnya sarat makna yakni terlihat membawa replika Monumen Nasional (Monas).

Memboyong patung beruang madu dengan membawa replika Monas, Arema Balikpapan sukses mencuri perhatian warga dalam pawai budaya edisi HUT 123 Kota Balikpapan (foto:kotaku.co.id/chandra)

“Ini sesuai dengan tema HUT Kota yakni penyangga IKN,” seru Koordinator Lapangan (Korlap) Arema Balikpapan Oyeng ditemui di sela acara.

Memperkuat identitas asalnya, ia juga turut menampilkan ikon daerah yakni Candi Singosari dan kesenian tari Joglo.

Oyeng lanjut menerangkan, untuk mendukung penampilan Arema Balikpapan, seluruh keluarga besar dilibatkan. “Setiap tahun Arema Balikpapan selalu mensupport kegiatan seperti ini,” pukaunya.

Urusan membawa replika Monas, Arema Balikpapan tidak sendiri, peserta lainnya yakni masyarakat Bali di Balikpapan juga membawa hal serupa. Tak tanggung-tanggung, replika Monas dibawa oleh Ogoh-ogoh yakni karya seni patung dalam kebudayaan Bali.

Jika mayoritas peserta menonjolkan budaya, Paguyuban Wijaya Kusuma (PWK) Cilacap Balikpapan justru tampil nyentrik dengan menghadirkan Lapas Nusakambangan dalam bentuk replika. Lengkap dengan petugas sipir yang diperankan Aan dan tahanan koruptor yang juga diperankan salah seorang anggota keluarga besar PWK Cilacap Balikpapan.

“Kami cari tema, kebanyakan (menampilkan) kebudayaan masing-masing. Karena di Cilacap ada yang juga terkenal selain budaya yakni Lapas Nusakambangan, maka kami hadirkan,” kata Ketua PWK Cilacap Balikpapan Aziz Maryono.

Paguyuban Wijaya Kusuma Cilacap tampil nyentrik dengan membawa replika Lapas Nusakambangan lengkap dengan napi koruptor yang diperankan salah seorang warga (foto: kotaku.co.id/chandra).

Ia menjelaskan, mengusung Lapas Nusakambangan sebagai tema utama dalam pagelaran tersebut menyimpan pesan yang dalam. “Harapannya masyarakat akan berpikir ulang kalau melakukan kejahatan dan tindak kejahatan juga berkurang,” tuturnya bersemangat. Itu sejalan dengan slogan Kota Balikpapan yang nyaman dihuni. Melengkapi penampilannya, PWK Cilacap Balikpapan juga membawa seni tari Ebeg dengan ciri khas Calung Banyumasan dimana para penarinya menggunakan Kuda kepang dalam. Ada juga kesenian Buncis berupa boneka orang. “Buncis dulunya bentuk penyamaran saat melakukan gerilya melawan Belanda,” ungkapnya.

Paguyuban Wijaya Kusuma Cilacap foto bersama sesaat sebelum memeriahkan pawai budaya (foto:kotaku.co.id/chandra)

Dalam aksinya di pawai budaya, seluruh peserta disambut hangat Wali Kota Balikpapan HM Rizal Effendi beserta seluruh unsur Muspida yang menanti di garis finish. Tiap peserta pun berkesempatan unjuk budaya di hadapan seluruh undangan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top