Ekbis

Kenalin Nih, Komunitas Porang Borneo! Bertani Mandiri, Bangun Rantai Distribusi Kini Siap Ekspor

Lahan tanam porang yang dikembangka Temang Dwi HP di Salok Api Darat, Samboja, Kukar dengan sejumlah bibit siap tanam (foto:kotaku.co.id/chandra)

KOTAKU, KUKAR-Ekspor batu bara, sudah biasa. Sawit? Sudah sering. Ini porang. Tumbuhan yang merupakan komoditas ekspor, sebab di luar negeri dijadikan bahan baku berbagai produk.

Adalah 178 petani yang tergabung dalam Komunitas Porang Borneo tersebar di seluruh penjuru Kaltim, tengah getol mengembangkan porang dan kini bersiap menuju ekspor. Bahkan Balikpapan sebagai Hub ekspor porang.

Itu artinya, batu bara dan sawit yang selama ini menjadi komoditas ekspor andalan Kaltim, akan disaingi porang. Targetnya, mulai tahun 2021 mendatang. Jalan menuju ekspor pun sudah dibangun. Diawali membentuk komunitas, disusul pembentukan koperasi dilanjutkan dengan rencana pembangunan pabrik pengolahan bekerja sama dengan investor.

“Porang punya nilai jual tinggi karena kebutuhannya buat ekspor. Selain itu mudah dibudidaya apalagi Kalimantan dianugerahi kekayaan yang luar biasa yakni alam liar yang luas. Kenapa tidak dikembangkan dan akhirnya terbentuk jaringan, kumpulkan teman-teman, kami sampaikan informasi tentang porang. Alhamdulillah di Kaltim sekarang ada 178 petani,” kenang Ketua Komunitas Porang Borneo Encep Suwandi AM dijumpai di ladang porang milik salah seorang anggota Temang Dwi HP di Salok Api Darat, Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (20/12/2020).

Porang merupakan tanaman mudah tumbuh di berbagai jenis tanah. Di lahan hutan, tanaman porang mampu tumbuh di bawah naungan tanaman lainnya.

Itu juga yang melatarbelakangi Temang Dwi HP merintis lahan terbuka seluas 7 hektare di Salok Api Darat dan 6 hektare di Lamaru Balikpapan untuk ditanami porang terhitung sejak Juni 2020 lalu. “Tanaman ini tidak rewel,” imbuhnya ditemui dalam kesempatan yang sama. Itu masih ditambah keuntungan yang tentu saja menggiurkan. “1 hektare (produksi) bisa 80 ton. Kalau harganya anggaplah Rp10 ribu per Kg, berarti 80 ton dapat Rp800 juta, per 2 tahun. Ongkos produksi sekitar Rp150 jutaan,” kelakarnya.

Pages: 1 2 3 4

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top