Metro

Bawa Trauma dan Rapid Antigen, Puluhan Pengungsi Gempa Sulbar Tiba di Balikpapan

hamas Ramadhan
Sejumlah pengungsi korban gempa bumi Sulbar saat tiba di kawasan Kampung Baru untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga masing-masing (foto:kotaku.co.id/chandra)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Puluhan pengungsi korban gempa bumi Sulawesi Barat (Sulbar) yang menumpang kapal laut KM Shanelin tiba di Balikpapan, Senin (8/2/2021). Saat kapal yang ditumpangi berlabuh di perairan Kampung Baru, para pengungsi kemudian dijemput menggunakan kapal berukuran kecil dan turun di pemukiman atas air Kelurahan Baru Tengah.

Ayu Lestari salah seorang pengungsi mengaku akan melanjutkan perjalanan ke Bontang. “Ada keluarga di sana, keluarga yang di Bontang juga yang minta kami untuk sementara tinggal di sana,” ucapnya setiba di Balikpapan.

KM Shanelin yang dioperasikan PT AMS merupakan kapal perintis rute Mamuju-Balikpapan.

Warga Desa Bambu Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju ini kembali melanjutkan, perjalanannya ke Balikpapan bersama tujuh anggota keluarga lainnya. “Kebetulan keluarga kirim ongkos, begitu ada kapal, langsung berangkat,” jelasnya sembari mengawasi kedua anaknya.

Apalagi biaya perjalanannya terbilang murah. “Rp35 ribu per orang. Hanya Rapid Antigen yang mahal, Rp150 ribu,” sebutnya.

Ia memilih menetap sementara di rumah keluarganya di Bontang dari pada di pengungsian. Dengan harapan dapat menghilangkan traumatik. Maklum saja, bukan hal yang mudah bagi korban bencana tinggal berlama-lama di pengungsian. Belum lagi ancaman gempa yang kerap menghantui nyaris setiap hari. Meskipun skala kecil tapi cukup mempengaruhi psikologis. Keadaan rumah pun tak bisa lagi dihuni karena mayoritas rumah warga setempat sudah retak.

“Sebelum kami kemari, kami sempat pulang ke rumah, untuk mengambil pakaian. Baru beberapa saat di rumah, tiba-tiba ada guncangan, suami saya sampai ketimpa kayu,” imbuh salah seorang anggota keluarga Ayu Lestari, yang tengah hamil tua. Karena tinggal di desa yang cukup jauh dari tengah kota, Ayu beserta keluarga mengaku kesulitan memperoleh bantuan

Pages: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top