
KOTAKU, BALIKPAPAN-Sejumlah daerah di Indonesia dilanda kekeringan beberapa waktu belakangan ini.
Fenomena El Nino yang berbarengan dengan musim kemarau ditengarai menjadi penyebab utamanya.
Kondisi itu menyebabkan musim kemarau di Indonesia lebih kering.
Dampaknya pun mulai terasa di Kota Minyak. Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud dalam sebuah kegiatan di Balai Kota mengatakan volume air di Waduk Manggar mengalami penyusutan hingga 60 cm.
“Untuk normalnya itu 10,30 meter. Saat ini 9,57 meter,” katanya, Sabtu (12/8/2023).
Untuk diketahui, Waduk Manggar merupakan waduk tadah hujan yang selama ini menjadi sumber air baku untuk Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) PDAM Balikpapan.
Selain itu, kebakaran lahan juga kerap terjadi di Kota Balikpapan. Namun, berhasil ditangani oleh personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan.
Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Balikpapan Dian Novrida mengatakan, berbagai kejadian itu merupakan dampak dari fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Pasifik.

Fenomena El Nino merupakan sebuah fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.
Fenomena alami ini menyebabkan anomali pola cuaca global, yang berdampak signifikan terhadap iklim berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan BMKG, indeks El Nino Juli 2023 lalu mencapai level moderate, sementara IOD sudah memasuki level index yang positif.
“Fenomena El Nino dan IOD positif saling menguatkan sehingga membuat musim kemarau 2023 menjadi lebih kering,” jelasnya, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Sabtu (12/8/2023).
Kendati demikian, bukan berarti tidak ada potensi turun hujan. Beberapa waktu lalu, Kota Balikpapan sempat diguyur hujan angin.
“Tapi itu hanya hujan lokal dan intensitasnya sangat rendah,” paparnya.
Puncak kemarau kering tahun 2023 diprediksi terjadi Agustus hingga awal September, dengan kondisi lebih kering dibandingkan tahun 2020, 2021 dan 2022.
Sepanjang musim kemarau ini, kata Dian, dampaknya pun tak main-main. Selain kekeringan, fenomena ini juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan bahkan berskala nasional.
Sebab bakal berimbas terhadap sektor pertanian terutama lahan pertanian tadah hujan yang masih menggunakan sistem pertanian tradisional.
“Jadi ada ancaman gagal panen untuk lahan pertanian tadah hujan,” ungkapnya.
Lanjut Dian, kondisi kekeringan ini juga dapat berujung kepada bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Jika tidak terkendali dapat menimbulkan krisis kabut asap yang berdampak terhadap kualitas lingkungan, ekonomi, sosial hingga kesehatan masyarakat.
Selama fenomena ini berlangsung, kondisi suhu di Kota Balikpapan berada kisaran normal, antara 25-31 derajat Celcius.
“Saat ini juga masih terdapat awan di Balikpapan yang bisa menahan radiasi matahari, sehingga ketika malam hari suhunya tidak turun drastis,” pungkasnya. (*)



