
KOTAKU, BALIKPAPAN-Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan upaya pencegahan terkait ideologi kekerasan yang dapat menjurus kepada aksi terorisme. Salah satu upayanya yakni dengan melaksanakan deklarasi kesiapsiagaan nasional yang digelar di Grand Senyiur Hotel Balikpapan, Senin (20/09/2021).
Kegiatan deklarasi yang diselenggarakan di Balikpapan ini menggandeng sejumlah tokoh agama, tokoh adat Dayak serta tokoh wanita. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari implementasi UU No 5 tahun 2018 tentang pemerintah dalam hal ini BNPT wajib melakukan pencegahan tindak pidana terorisme salah satunya dengan melakukan kesiapsiagaan nasional.
“BNPT berada di Balikpapan menggelar program Kesiapsiagaan Nasional tentu untuk bersama-sama membangun kesadaran perlunya terus memelihara kewaspadaan dini,” jelas Kepala BNPT, Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar.
Dalam hal ini, tentunya perlu peran serta aparat pemerintahan di Kaltim serta tokoh masyarakat, tokoh adat dan agama. Saat diwawancarai oleh awak media, ia menyampaikan bahwa ideologi kekerasan dapat mengarah pada aksi terorisme yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
“Tentu harus terus waspada adanya pengaruh ideologi kekerasan berbasis yang mengarah kepada tindakan terorisme karena ideologi kekerasan ini ideologi yang bertentangan ideologi Pancasila, Indonesia bangga punya Pancasila oleh karenanya sama-sama mengingatkan semua pihak di tengah kehidupan bangsa dan bernegara ini ada saja orang tertentu terafiliasi entitas internasional yang berusaha mendukung simpatisan dari anak bangsa,” ucapnya.
Ia pun meminta kepada masyarakat Kaltim khususnya tidak lengah dengan aksi kekerasan yang dianggap benar menurut segelintir kelompok.
“Jangan sampai lengah, ideologi kekerasan yang menghalalkan kekerasan destruktif menyakiti orang lain dianggap membunuh sebagai hal biasa ini jauh dari nilai Pancasila,” pintanya.
Menurutnya, ideologi Pancasila wajib dijaga keutuhan sebagai kekuatan utama dalam menanggulangi paham kekerasan. “Bangga punya nilai Pancasila oleh karena itu harus menjadi kekuatan utama dalam membangun suasana kehidupan bangsa dan bernegara yang harmoni, bukan untuk penuh dengan semangat merayakan perbedaan,” imbuhnya.
Masih menurutnya, perbedaan yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah yang perlu dipelihara dan jaga dari generasi ke generasi. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa ada kelompok-kelompok yang terus mencoba menghilangkan ideologi Pancasila dengan menawarkan ideologi lain yang mengatasnamakan perbedaan.
Namun Boy menegaskan, bahwa sampai hari ini ideologi Pancasila adalah yang terbaik di tengah perbedaan dan kemajemukan masyarakat. “Itulah persatuan dan kebersamaan saling menghargai dan menghormati dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara lintas etnis lintas agama,” lanjutnya.
Adapun kesiapsiagaan nasional merupakan upaya mempersiapkan seluruh elemen masyarakat dari ancaman aksi terorisme dan bahaya laten paham radikal terorisme.
“Radikal terorisme sebagai ancaman yang lahir dari suatu ideologi menyimpang ini berpotensi mengikis persatuan dan nasionalisme bangsa melalui propaganda ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” jelasnya.
Lewat kesiapsiagaan nasional, Kepala BNPT berharap konsensus nasional dapat terpelihara dan terlaksana dengan baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Deklarasi ini diharapkan dapat menggugah semangat seluruh unsur yang terlibat dalam mengantisipasi pencegahan tindak pidana terorisme” jelas Boy.
Sebagai salah satu program utama pencegahan terorisme, kesiapsiagaan nasional tentunya tidak dapat terwujud melalui upaya sepihak pemerintah saja, namun melibatkan lapisan masyarakat. Untuk itu seluruh peserta pada kegiatan deklarasi ini mengikrarkan janji setia kepada Pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi Kebhinekaan, menolak intoleransi, dan radikal terorisme, mendukung kesiapsiagaan nasional dalam mengantisipasi ancaman terorisme, serta siap mewujudkan Indonesia damai. (*)



