
Tapi dermawan saja tidak cukup. Nyatanya, untuk kesekian kalinya, orderan Go Food darinya kembali mendapat penolakan. “Awalnya ngasih alasan salah satunya parkir tadi. Lama kelamaan, ditolak, ditolak, ditolak,” ucapnya serius.
Kontan suami dari Yuli Kusno ini semakin gerah dibuatnya. “Ini ada apa sih,” kesalnya kala itu. Kegundahan makin meraja lela saat ia berjumpa dengan kerabatnya. Pemilik kafe yang bercabang-cabang. Ada di eWalk-Pentacity dan ada juga di luar BSB. Kawannya itu dengan bangga bercerita bahwa outlet kopinya yang berada di luar, beromzet lebih besar dibanding di dalam BSB. “Karena kata kawan saya itu, dia nyediakan tempat khusus bahkan jalur khusus untuk Gojek,” ucapnya menirukan sahabatnya.
Ting!!!!! Daniel seolah menyadari sesuatu. Bahwa ada celah yang selama ini dibiarkan menganga. Ia tahu betul, kalau celah ini diabaikan begitu saja, lama kelamaan akan berpengaruh. Bukan terhadap dirinya secara langsung tapi terhadap tenant yang mengisi kedua mal yang dikelolanya. Karena sebagai pengelola, tugasnya tidak saja jago menyedot banyak pengunjung mal yang berkontribusi positif terhadap transaksi tapi juga dapat membantu eksistensi tenant agar tetap tumbuh. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 sekarang, ada fenomena yang baru saja lahir. Utamanya sektor usaha Food and Beverage (F&B). Yakni jumlah pengunjung bukan lagi indikator utama dalam menghitung perolehan omzet suatu outlet karena ada barisan para driver Gojek yang mengantre pesanan konsumennya yang juga memberi andil terhadap omzet penjualan.
Ya, selama Go Food meng-Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang dibuat mager alias malas gerak. Mau makan dan minum, ya Go Food. Ditambah pandemi Covid yang disertai aturan pembatasan maka semakin bertambah juga masyarakat yang mager dibuatnya.



