
KOTAKU, BALIKPAPAN-Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan perluas akses layanan pengobatan HIV dengan menyiapkan 25 fasilitas kesehatan (faskes) sebagai tempat rujukan bagi warga yang terindikasi positif setelah menjalani skrining.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular DKK Balikpapan Dewa, menjelaskan bahwa seluruh faskes tersebut dapat dipilih bebas oleh pasien sesuai kenyamanan.
“Siapa pun yang terkonfirmasi positif bebas memilih tempat pengobatan. Bisa di puskesmas, bisa juga di rumah sakit. Tidak harus yang terdekat,
Kalau mau yang jauh pun dipersilakan,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan pemeriksaan gratis HIV-AIDS di Lapangan Merdeka, Minggu (30/11/2025).
Dewa menuturkan bahwa seluruh hasil Skrining tercatat otomatis dalam sistem, sehingga proses tindak lanjut dapat dilakukan tanpa menunggu lama.
Petugas akan menghubungi peserta yang terindikasi positif, memberikan penjelasan tentang fasilitas layanan yang tersedia, dan memfasilitasi pilihan tempat pengobatan.
Proses rujukan juga dipermudah melalui Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) yang menghubungkan antar faskes secara langsung.
“Contohnya ada warga ingin berobat di Puskesmas Manggar meskipun pemeriksaannya dilakukan oleh puskesmas lain. Itu tetap bisa. Laporan masuk ke puskesmas tujuan dan pengobatan bisa segera dilanjutkan,” jelasnya.
Layanan pengobatan oleh 25 fasilitas kesehatan ini bersifat terbuka dan dapat diakses sesuai jam operasional masing-masing.
Sementara itu, tenaga medis Puskesmas Mekar Sari dr Siti Fatimah, menjelaskan bahwa pasien dengan hasil reaktif awal akan diarahkan memilih puskesmas yang paling nyaman untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
“Kalau reaktif 1, kami minta pasien memilih puskesmas yang paling nyaman untuk pemeriksaan lanjutan. Kalau sudah R1, R2, hingga R3, itu 90 persen mengarah positif, sehingga pengobatan bisa langsung dimulai,” ujarnya.
Lebih lanjut dr Siti menyampaikan obat tersedia dan pasien dapat langsung menerima terapi. Puskesmas juga menurunkan petugas lapangan serta pendamping sebaya untuk memastikan pasien mampu menjalani terapi secara konsisten.
“Follow Up selalu kami lakukan sampai pasien benar-benar minum obat sesuai aturan. Prinsip kami, kenyamanan pasien nomor satu,” tegas dr Siti. (*)



