
KOTAKU, BALIKPAPAN-Lonjakan kasus gizi kronis atau stunting membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) melakukan berbagai upaya preventif.
Berdasarkan survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 tercatat, kasus stunting nasional berada kisaran 19,8 persen.
Sementara data terbaru, prevalensi stunting kini level 24,6 persen, meningkat dari sebelumnya 21,6 persen.
Dengan capaian tersebut, Balikpapan masih tercatat berada di atas rata-rata nasional dengan selisih hampir 5 persen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan Heria Prisni memastikan akan ikut ambil peran dalam aspek pencegahan dalam kasus ini dengan melakukan edukasi.
Berbagai strategi juga diupayakan mulai dari edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak.
Termasuk melibatkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, serta kader Posyandu tingkat RT untuk menjadi kunci dalam memperluas jangkauan layanan bagi masyarakat.
Heria mengatakan, upaya pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui sosialisasi umum, tetapi juga langsung menyentuh keluarga berisiko.
“Kami tidak menangani kasus yang sudah terjadi, tapi lebih pencegahan. Salah satunya dengan edukasi bagi keluarga dan anak-anak untuk kelompok rentan,” ujarnya, saat dikonfirmasi, Jumat (1/8/2025).
DP3AKB Balikpapan juga akan aktif mendampingi keluarga yang berisiko untuk menekan peningkatan kasus stunting.
Heria berharap, lewat pendekatan langsung dan keterlibatan lintas sektor, angka stunting di Balikpapan bisa ditekan secara bertahap dan berkelanjutan.
Selain itu, lanjut dia menyebut, program rutin seperti Satu Telur Satu Hari masih dijalankan secara aktif.
Baik menyasar lingkungan internal kantor pemerintahan, maupun di lingkungan keluarga berisiko.
“Di kantor, kami rutin melaksanakan program ini setiap hari Jumat, ini salah satu upaya kami untuk menekan melonjaknya angka kasus stunting di Balikpapan,” pungkasnya. (*)



