Metro

DP3AKB Balikpapan Tancap Gas Perangi Stunting

Alwiati

KOTAKU, BALIKPAPAN-Stunting merupakan kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Sederhananya, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan fisik anak.

Adapun penyebab utama dari stunting yakni kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak.

Di Kota Balikpapan, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) terus berupaya memerangi kasus itu.

Menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) yang belum lama ini ketuk palu, DP3AKB mendapatkan tugas untuk mendistribusikan bahan mentah.

Bahan pangan yang dimaksud yang sarat gizi. Seperti telur ayam, biji kacang hijau, serta susu formula anak dan lainya

“Sasaran kami adalah ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis kemudian balita yang terduga atau berisiko stunting,” kata Kepala DP3AKB Alwiati kepada media ini di Balai Kota, Senin (30/10/2023).

Untuk prosesnya, lanjut dia menerangkan, terlebih dahulu dilakukan pendataan dari Puskesmas kemudian dilakuan verikasi dengan unsur terkait lainya.

Setelah itu penetapan sebagai keluarga berisiko dan perlu menerima bantuan.

Selain itu, DP3AKB juga tetap melaksanakan delapan aksi konvergensi untuk mengatasi stanting.

Adapun kedelapan aksi itu meliputi aksi analisis situasi, rencana kegiatan, rembuk stunting, peraturan kepala daerah tentang peran wilayah, pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data stunting, pengukuran dan publikasi stunting, serta reviu kinerja tahunan.

“Jadi tidak hanya intervensi spesifik tapi juga sensitif,” ujarnya.

Menurutnya, hasil audit stunting ada beberapa keluarga yang butuh intervensi sensitif mulai dari pola asuh, cara pemberian makan, kemudian sanitasi lingkungan.

“Ini yang menjadi perhatian kami termasuk ibu hamil yang sangat berisiko kekurangan energi kronis,” ungkapnya.

Jumlah ibu hamil dengar risiko stunting, masih menurut dia, menjadi atensi di Kota Balikpapan karena berpotensi menambah jumlah kasus.

“Maka kami harus fokus kepada seribu HPK (Hari Pertama Kehidupan, Red) kami harus memulai dengan ibu hamilnya,” pungkasnya. (*)

To Top

You cannot copy content of this page