
KOTAKU, BALIKPAPAN-Penjaringan dan pemberian tablet tambah darah (TTD) menjadi dua langkah utama pengendalian anemia di wilayah Muara Rapak, Balikpapan Utara.
Dalam upaya preventif tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah Pusat Kesehatan Masyarakat (UPTD Puskesmas) Muara Rapak memfokuskan kalangan remaja putri sebagai sasaran.
Penanggung Jawab Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Puskesmas Muara Rapak Nurul Jannah, menerangkan penjaringan ke sekolah-sekolah utamanya bertujuan memantau kondisi kesehatan remaja. Namun, berperan juga sebagai langkah deteksi dini.
Remaja putri yang terdeteksi mengalami hemoglobin rendah, akan mendapat suplemen penambah darah secara berkala.
“Mereka yang terdeteksi Hb (hemoglobin)-nya rendah berisiko anemia.
Kami pasti memberikan suplemen penambah darah untuk dikonsumsi seminggu sekali,” terangnya, Jumat (28/11/2025).
Selain penjaringan ke sekolah, puskesmas mengoptimalkan kegiatan pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang rutin dilaksanakan kader kesehatan di lingkungannya masing-masing.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, tenaga kesehatan menyisipkan materi penyuluhan untuk meningkatkan pemahaman kalangan remaja mengenai langkah pencegahan.
Edukasi menjadi bagian penting dalam mencegah risiko gangguan kesehatan, termasuk anemia kalangan remaja. Dengan begitu, puskesmas berharap dapat menumbuhkan kepedulian bersama.
“Edukasi untuk mencegah dan meningkatkan pemahaman. Karena anemia ini juga bisa menjadi faktor munculnya masalah gizi, masa mendatang,” tutur Nurul.
Dia mengakui remaja usia 12 hingga 18 tahun cukup rentan mengalami masalah kadar hemoglobin rendah. Kondisi tersebut seringkali memicu anemia.
Dia mengingatkan bahwa anemia tidak boleh dianggap masalah ringan, karena dampaknya dapat berlanjut dalam jangka panjang. Termasuk ketika para remaja kelak memasuki fase menikah sampai dengan masa kehamilan.
Pada siklus hidup tersebut, anemia bukan saja dapat membahayakan bagi ibu hamil, tetapi juga tumbuh kembang janin.
“Dalam fase kehamilan, dampaknya tidak hanya kepada ibunya tapi juga janin. Ketika pertumbuhan janin tidak prima, akan berdampak dengan kondisi kesehatannya setelah kelahiran. Makanya intervensinya harus dari awal,” pungkasnya. (*)



