Metro

Hore!! Dinas Kesehatan Nyatakan Balikpapan Bebas Covid Varian Kraken

KOTAKU, BALIKPAPAN-Belum lama ini, sempat tersiar kabar bahwa varian baru Covid 19 subvarian XBB 1.5 alias varian Kraken masuk ke Kota Balikpapan. Varian baru yang merupakan turunan dari Omicron itu dibawa seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Polandia.

Subvarian itu terdeteksi masuk ke Kota Balikpapan pada 11 Januari 2023, setelah dilakukan pemeriksaan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS).

“Informasi masuknya virus ini ditemukan oleh teman-teman dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Ini WNA dan sesuai prosedur, langsung dilakukan isolasi kemudian dilakukan tes WGS di laboratorium Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan dr Andi Sri Juliarti, Selasa (1/2/2023).

Menurutnya, warga Polandia tersebut masuk ke Balikpapan untuk tujuan pekerjaan. Kendati WNA tersebut tidak mengalami gejala, namun virus terdeteksi saat melakukan tes sebagai prosedur masuk ke lokasi kerja.

“Di Kaltim, pekerja migas dan tambang masih diwajibkan screening test sebelum masuk kerja. Ini hal yang baik yang masih dipertahankan, karena kalau dilihat dari penerbangan sudah tidak lagi (screening test),” ujarnya.

Hasil pelacakan kontak erat atau tracing pun menunjukkan hasil negatif. Menurut Dio (sapaan akrabnya), tracing dilakukan terhadap sopir yang menjemput WNA, hotel tempat isolasi hingga kontak lain dan semua dinyatakan negatif.

“Dari hasil kemarin sampai saat ini, tidak ada lagi ditemukan yang terkonfirmasi (subvarian Kraken),” terangnya.

Oleh karenanya, dia memastikan di Balikpapan, varian itu sudah terkendali. “Tidak ada penularan ke masyarakat dan sebagainya,” tambahnya.

Dio juga mengapresiasi kecepatan hasil tes WGS. Ya, kini tes WGS tak lagi harus dilakukan di luar Kalimantan Timur, lantaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengembangkan beberapa laboratorium di Indonesia, termasuk laboratorium Ummul dan kini mampu mendeteksi varian virus.

“Ini sangat menguntungkan bagi kami. Jika flashback, biasanya harus menunggu cukup lama, karena harus melakukan pemeriksaan di laboratorium yang ada di luar Kalimantan Timur,” akunya.

Sementara itu, untuk resiko penularan dari subvarian yang diberi nama oleh profesor biologi Kanada Dr Ryan Gregory, kata Dio, sama seperti gejala varian Omicron lainnya.

“Malah lebih ringan karena tidak menonjol batuknya, lebih kepada pilek dan rasa lemah daya serta sakit kepala. Untuk isolasi juga sama, selama 10 hari,” pungkasnya. (*)

To Top

You cannot copy content of this page