
Perkiraan harga jual tersebut bukan mengada-ada. Dasarnya itu tadi. Permintaan tinggi namun bahan baku terbatas. Bahkan harga porang yang diolah menjadi chip siap ekspor lebih mahal lagi dibanding harga porang segar.
Nah, perihal tingginya permintaan luar negeri, bukan isapan jempol. H Jaimansyah petani porang yang lebih dulu mengembangkannya di Balikpapan mengaku ditantang konsumen asal China.
“Saya sampai didatangi pembeli langsung dari China. Dia butuh 70 ton per hari yang sudah diolah dalam bentuk chip alias kering, wah banyak kali,” ungkapnya seraya memutar ingatan. Ia pun mengaku kuwalahan.
Itu menandakan ceruk pasar porang benar-benar menjanjikan. Sehingga diperlukan kerja sama seluruh petani ditiap wilayah untuk memenuhi permintaan luar negeri.
Apalagi menurutnya kualitas porang di Kaltim diklaim jauh lebih baik dibanding Pulau Jawa yang lebih dulu demam bertani porang. Lebih dari itu, masa panen porang di Kaltim jauh lebih cepat karena didukung cuaca yang cukup terik.
Kerja sama seluruh petani pun ditandai dengan terbentuknya koperasi. Namanya Koperasi Porang Borneo diketuai H Jaimansyah.
Ya, sebagai lembaga usaha, koperasi dapat memasok kebutuhan bahan baku dan sarana produksi untuk melayani kebutuhan budidaya petani anggota koperasi sehingga dapat melakukannya secara efisien. Koperasi juga dapat mengolah dan memasarkan hasil pertanian anggota koperasi dalam skala usaha yang lebih besar. Yang terpenting, hadirnya koperasi menjamin harga yang didapat petani sesuai dengan yang berlaku di pasar.



