
Apalagi saat ini, petani dihadapkan tantangan harga bibit yang melambung tinggi seiring dengan adanya sejumlah daerah di Indonesia yang memperbesar kapasitas produksi. Di antaranya Jatim. Walhasil, kebutuhan bibit meningkat dalam waktu bersamaan yang berujung naiknya harga. Melalui koperasi, kendala tersebut diharapkan dapat dipangkas.
Tercatat, luas lahan tanam porang di Kaltim oleh petani yang tergabung dalam koperasi mencapai 200 hektare. Jumlah itu dirasa kurang. Pasalnya, Koperasi Porang Borneo berencana membangun pabrik olahan di Kota Balikpapan untuk kemudian diekspor. “Idealnya (luas tanam) minimal 600 hektare untuk membangun pabrik (agar ketersediaan bahan baku terjaga),” seru Jaimansyah yang mengembangkan tanaman porang di atas lahan seluas 2 hektare di Jalan Soekarno Hatta Km 8 Balikpapan, diamini Sekretaris Koperasi Porang Borneo Novian.
Ia pun berharap, area tanam porang di Kaltim semakin meluas dan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kesempatan emas dari bertani porang.
Dalam kesempatan yang sama Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan Abdul Rahman sekaligus Pembina Komunitas Porang Borneo mengatakan porang merupakan tanaman komoditas ekspor yang tinggi peminat. “Kebutuhan di luar negeri masih sangat banyak. Selama ini, Indonesia ekspor porang ke Jepang, China, Vietnam bahkan Australia. Dan lebih istimewa, porang tumbuh bagus di Indonesia, di China tidak bisa tumbuh, inikan tanaman tropis,” gebunya.
Lebih menarik lagi, lanjutnya, banyak tanaman porang tumbuh di hutan secara liar. Itulah kemudian yang dikembangkan dan dibudidaya. Hingga kini menjalar ke sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim.
Tak heran jika ia menggelontorkan semangat budidaya daya porang di wilayah kerjanya. Itu sesuai dengan program
Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mendorong roda ekonomi nasional dengan menguatkan aktivitas produksi (on farm) maupun aktivitas pasca produksi (off farm) dan melipatgandakan lalu lintas ekspor pertanian menjadi tiga kali lipat melalui gerakan tiga kali ekspor (Geratieks).



