
KOTAKU, BALIKPAPAN-Proyek drainase dan peningkatan jalan di Jalan Wolter Monginsidi RT 21, 22, 31 dan 37 Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, menuai protes warga setempat.
Proyek tersebut dituding semrawut. Selain membuat jalan berdebu dan macet, pembangunan saluran drainasenya dinilai tak wajar karena berbentuk zig-zag.
Keluhan itu pun sampai ke Komisi III DPRD Balikpapan. Guna menjalankan fungsi pengawasan, Komisi III inspeksi mendadak (Sidak) di kawasan tersebut, Senin (14/8/2023).
Sidak dipimpin Ketua Komisi III DPRD Balikpapan Alwi Al Qadri dan diikuti sejumlah anggota komisi.
Masing-masing H Haris, Syarifuddin Odang, Fadlianoor dan Japar Sidik.
Turut hadir Kepala Dinas Pekerjaan Umum Rita, Camat Balikpapan Barat Arif Fadillah, perwakilan dari kontraktor pelaksana PT Azka Jaya dan disaksikan warga.
Dalam kunjungannya itu, Alwi mendengarkan keluhan warga, yakni soal ketinggian jalan dan drainase yang berkelok.
Proyek dengan anggaran Rp3,8 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Balikpapan itu sudah berjalan kurang lebih sembilan pekan.
Ditargetkan rampung September 2023 dan terpantau pengerjaan terus dikebut.
Dalam pengerjaannya, badan jalan akan ditinggikan kurang lebih 27 cm. Ketinggian itu, menurut Alwi merupakan dasar ketinggian yang paling rendah.
Dia juga menjelaskan alasan jalan tersebut harus memiliki ketebalan 27 cm. Yakni karena jalur itu kerap dilewati mobil kontainer roda delapan.
“Saya khawatir kalau di bawah 20 cm bukan hanya dalam lima bulan, tapi dalam tiga bulan saja bisa hancur lagi,” tuturnya.
Kendati demikian, tak bisa dipungkiri dampaknya pemukiman warga menjadi lebih rendah daripada tinggi jalan, mengingat rumah di kawasan tersebut telah berusia 30 sampai 40 tahun.
“Sehingga begitu dibangun jalan ini tingginya agak mencolok. Dan kalau mengikuti (ketinggian) rumah yang lama kan agak repot juga, enggak akan pernah bisa diperbaiki (jalannya),” ungkapnya.
Oleh karena itu, jalan tetap harus diperbaiki.
“(Nanti) Kami diteriaki warga, kenapa jalan rusak (tapi) anggota dewan diam saja,” imbuhnya.
Lanjut Alwi, sejatinya banyak warga yang senang dengan perbaikan jalan tersebut, mengingat tingkat kerusakan jalan di kawasan itu cukup parah.
“Kalau warga yang berpikiran maju, jalan diperbaiki mestinya senang. Bukan sebaliknya. Kalau soal amburadul, namanya proyek sementara (dikerjakan),” ujarnya.
Sementara itu, terkait pembangunan drainase, kata Alwi merupakan salah satu langkah antisipasi jangka panjang.
Dia membenarkan daerah itu memang bukan kawasan langganan banjir.
“Tapi jangan mikir satu atau dua tahun ini, tapi mikirnya empat sampai 10 tahun yang akan datang,” tegasnya.
Terlebih Kota Balikpapan merupakan calon penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
“Tentunya pembangunan akan dilakukan di mana-mana, termasuk di daerah Kampung Baru ini. Kalau pembangunan sudah berjalan, otomatis banjir tidak bisa dihindari,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, pembangunan drainase ini bak pepatah sedia payung sebelum hujan yang diartikan sebagai langkah antisipasi sejak dini.
Adapun dalam proses pembangunannya drainase dibuat berkelok, lanjut Alwi, sebenarnya bukan kehendak kontraktor.
“Kontraktor akan senang sebenarnya kalau mengerjakan lurus,” tambahnya.
Kendati demikian, kondisi di lapangan ada tiang listrik. Kontraktor sejatinya telah berupaya bersurat kepada PLN namun belum ditanggapi.
Agar proyek tidak tertunda dan kembali dikomplain warga maka kontraktor membelokkan saluran drainase, namun tetap selevel dengan tinggi jalan.
“Warga menilai pekerjaan drainase tidak sesuai spesifikasi, padahal kontraktor sudah memberi waktu dan menunggu untuk pemindahan tiang,” terangnya.
Namun karena belum direspons PLN, sedangkan pengerjaan perlu segera dilakukan mengingat ada drainase yang terputus dan segera disambung.
“Karena kalau hujan, khawatir berdampak ke rumah warga, sehingga harus cepat diselesaikan,” terangnya.
Maka dia berharap warga mendukung dan mendoakan proyek tersebut lancar dan segera rampung.
Dalam kesempatan itu, Rita mengatakan telah menjelaskan kepada warga terutama rekayasa terhadap pekerjaan di lapangan.
“Kalau toh ada komplain dari warga, kami juga sudah lakukan sosialisasi,” ungkapnya.
Rita memastikan tidak ada permasalahan dalam proyek itu, termasuk pembangunan drainase yang berkelok.
“Yang penting kan tidak patah 45 derajat atau 90 derajat. Apa bedanya dengan drainase yang ada di tikungan. Yang terpenting, menjaga elevasinya agar air tetap mengalir,” cetusnya.
Sementara itu, saat disinggung terkait progres pekerjaan saat ini, Rita tak menjelaskannya.
“Untuk progres, langsung tanya Kabid,” tutupnya. (*)



