Ekbis

Lifting Minyak Semester I 2024 Capai 576 BOPD

Dwi Soetjipto (kiri) bersama Shinta Damayanti saat konferensi pers kinerja hulu migas semester I tahun 2024 (kotaku.co.id/ist)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat lifting minyak semester I tahun 2024, mencapai 576 barel per hari (BOPD) atau 91 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024, yaitu 635 BOPD.

Sedangkan salur gas mencapai 5.301 juta kaki kubik (MMSCFD) dari target 5.443 MMSCFD. Atau mencapai 92 persen dari target APBN 2024, yakni 5.785 MMSCFD.

“Kami sudah hitung, Outlook (perkiraan sampai akhir tahun 2024) akan menjadi 5.554 MMSCFD.

Realisasinya akan lebih besar dari target WPNB (Work Program and Budget, Red), meskipun kami masih menghadapi kendala (target) APBN.

Gas ini kendalanya infrastruktur. Kami harap Batang – Cirebon akan segera bisa tersambung tahun 2025,” ujar Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, didampingi Wakil Kepala SKK Migas Shinta Damayanti, dalam konferensi pers kinerja hulu migas semester I, tahun 2024, di Jakarta, yang juga digelar secara daring, Jumat (19/7/2024).

Menurut Dwi Soetjipto, capaian lifting minyak semester I 2024 terhambat banjir yang terjadi sejumlah daerah.

“Banjir di mana-mana sehingga drilling (pengeboran) praktis lebih dari satu bulan tidak bisa dilakukan.

Jadi ada beberapa keterlambatan (produksi) terkait kegiatan drilling,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan potensi migas Indonesia hingga 30 Juni 2024, yang masih selalu direview oleh Kementerian ESDM.

Cadangan minyak Indonesia mencapai 4,7 miliar barel minyak (BBO) dan cadangan gas sebanyak 55,76 triliun kaki kubik (TCF).

Adapun Indonesia Investor Attractiveness atau daya tarik investasi migas Indonesia, menempati peringkat kesembilan dari 14 negara.

Penilaian cenderung stagnan, perlu terobosan untuk bersaing dengan negara lain.

“Fiskal sudah cukup banyak. Pemerintah pusat memberikan perhatian, misalnya dalam PSE (Penentuan Status Eksplorasi, Red) yang fleksibel.

Kemudian perpajakan yang terus diperbaiki tergantung keekonomian,” pungkasnya. (*)

To Top

You cannot copy content of this page