
Desy menjelaskan bahwa dalam program kampus merdeka yang dilakukan, terdapat modul yang berisikan tentang kunjungan ke tempat-tempat bersejarah. Dia juga sangat bersyukur karena berkesempatan untuk belajar sejarah perminyakan di Kota Balikpapan.
“Saya sangat bersyukur bisa berada di sini sehingga tahu banyak hal seperti perminyakan, sejarah Kota Balikpapan sebagai Kota Minyak, bahkan sampai monumen-monumen yang ada di Kota Balikpapan,” kata Desy.
Di tempat terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR KPI Unit Balikpapan Ely Chandra Peranginangin menyampaikan bahwa sejarah Kota Balikpapan memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri perminyakan. “Penyebutan Kota Balikpapan sebagai Kota Minyak tentunya tidak dapat dilepaskan dari sejarah pertumbuhan dan perkembangan Kota Balikpapan,” kata Chandra.
Sebagai bahan pembelajaran kepada generasi muda termasuk dunia pendidikan, situs-situs bersejarah itu saat ini dirawat dan dikelola oleh PT KPI Unit Balikpapan. “Kami menyambut baik kunjungan ini, apalagi pesertanya berasal dari berbagai kampus di Indonesia. Para mahasiswa tersebut kebanyakan berasal dari daerah yang tidak ada industri perminyakannya. Kondisi yang mungkin saja berbeda dengan Kota Balikpapan,” jelasnya.
Untuk itu Chandra berharap, kunjungan ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi para mahasiswa yang hadir. “Semoga kehadiran para mahasiswa ini semakin memperluas informasi terkait dengan sejarah dan perkembangan Kota Balikpapan, dan tentunya dapat mendukung operasional Pertamina sebagai salah satu objek vital nasional,” harap Chandra.
Senada dengannya Relawan Pengelola Rumah Cagar Budaya Dahor Rudiansjah mengatakan keberadaan Rumah Dahor akan semakin menarik, masa mendatang. “Balikpapan ini akan menjadi tempat tujuan wisata, oleh karena itu tempat-tempat bersejarah sebagai salah satu destinasi wisata dan edukasi perlu dijaga,” tutup Rudiansjah. (*)



