
KOTAKU, BALIKPAPAN-Unjuk rasa digelar Aliansi Balikpapan Bergerak di depan gedung DPRD Kota Balikpapan, Senin (1/9/2025).
Aksi yang menjadi panggung aspirasi warga ini berlangsung kondusif hingga malam hari.
Ratusan massa sempat menunggu kehadiran Wali Kota Balikpapan DR H Rahmad Mas’ud.
Sekira pukul 17.55 Wita, Rahmad hadir dan langsung menyapa para demonstran untuk berdialog terbuka.
Suasana sempat hening ketika Rahmad mendengarkan berbagai tuntutan yang disuarakan.
Isu nasional ikut mencuat, mulai dari kritik atas tindakan represif aparat kepolisian yang merenggut nyawa warga sipil, hingga penolakan terhadap kebijakan penambahan tunjangan DPR RI yang dinilai jauh dari kepentingan rakyat.
Di sisi lain, massa juga dengan lantang menyuarakan persoalan sehari-hari.
Seperti persoalan banjir, krisis layanan air bersih, temuan beras tak sesuai kualitas, kelangkaan elpiji bersubsidi, hingga akses pendidikan yang dianggap belum berpihak dengan masyarakat kecil. Termasuk tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Menanggapi tarif PBB, Rahmad menegaskan bahwa tidak ada kenaikan.
Bahkan, menurutnya, dalam tiga tahun terakhir justru diberikan diskon hingga 90 persen untuk kalangan tertentu.
Dia pun meminta masyarakat mengecek langsung agar tidak termakan isu yang menyesatkan.
Mengenai banjir, dia tak menutup mata. Rahmad mengakui penanganannya membutuhkan waktu panjang, tetapi berbagai langkah sudah dilakukan.
“Pembangunan saluran drainase, perbaikan parit, hingga penyediaan area retensi air di kawasan Pasar Segar seluas 10 hektare yang mampu menampung 160 ribu kubik air,” jelasnya.
Untuk persoalan elpiji 3 Kilogram (Kg), Rahmad mengingatkan bahwa subsidi hanya untuk warga kurang mampu.
Karenanya dia mengimbau agar masyarakat melapor bila menemukan penyalahgunaan.
“Pemerintah Kota Balikpapan sudah mengusulkan penambahan kuota ke Pertamina, dan tahun ini rencana itu akan terealisasi,” imbuhnya.
Rahmad juga menyampaikan pembangunan infrastruktur jalan yang terus digarap, dari jalur Kilometer 8 menuju TPA hingga Manggar.
Serta perbaikan jalan utama untuk mengurai kemacetan. Perbaikan penerangan jalan umum di berbagai titik kota juga masuk dalam prioritasnya.
Usai dialog, Rahmad berpamitan. Massa aksi kemudian menyalakan lilin di depan gedung DPRD, sebuah simbol harapan agar suara rakyat tidak padam di tengah hiruk-pikuk kebijakan.
Tak lama berselang, massa membubarkan diri dengan tertib seraya menegaskan bahwa demokrasi di Balikpapan bisa tumbuh lewat ruang dengar yang saling menghargai. (*)



