Metro

Mufassirah Balikpapan Melaju ke Final Tafsir Alquran MTQ ke 44 Kaltim, Tuan Rumah Optimis Juara Umum

Peserta nomor urut TQ.BI.15 mufassirah asal Balikpapan, tampil dalam final tafsir Alquran (kotaku.co.id/ryan)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Persaingan peserta cabang tafsir Alquran dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke 44 Kaltim, berlangsung ketat.

Hal ini yang dirasakan finalis tafsir Alquran kategori tafsir bahasa Indonesia asal Balikpapan Rahma Alda Rimaniar, dengan nomor peserta TQ.BI.15.

“Jadi selama dua tahun saya mengikuti tafsir, MasyaAllah pesaing atau rival begitu kuat. Begitu bagus,” ujar Rima, sapaannya, ditemui usai tampil dalam final tafsir Alquran kategori bahasa Indonesia, di Majelis Universitas Balikpapan (Uniba), Jumat (14/5/2023).

Adapun jumlah mufassirah atau peserta perempuan kategori tafsir Alquran bahasa Indonesia sebanyak delapan orang.

Kemudian tiga orang tersaring masuk babak final. Rima adalah salah seorang yang mendapat kesempatan untuk meraih juara I.

Ia mengatakan, sebagai bagian dari kafilah Balikpapan, Rima berharap seluruh peserta asal Kota Beriman dapat mencapai target juara umum.

“Semua cabang yang dilombakan, semoga bisa dimenangkan peserta dari Balikpapan. Kami harapkan bisa mendapatkan juara umum, karena kami menjadi tuan rumah yang menyambut kafilah dari sembilan kabupaten dan kota yang lain,” ungkap Rima yang sehari-hari mengajar di Taman Pendidikan Alquran di kawasan Stal Kuda, Balikpapan Selatan.

Rima mengaku selama mengikuti lomba didampingi kedua orang tua dan adik laki-lakinya.

Rima mengabadikan momen bersama kedua orang tua dan adik laki-lakinya.(kotaku.co.id/ryan)

Ia juga mengatakan bahwa ajang MTQ ke 44 Kaltim yang diselenggarakan di Balikpapan, diharapkan dapat dimanfaatkan peserta agar selalu termotivasi belajar, berusaha dan bersungguh-sungguh mengamalkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.

“Inti utamanya adalah selalu dekat dengan Alquran,” katanya.

Rima menuturkan, sebenarnya disiplin ilmu yang dipelajarinya sejak kecil sampai saat ini adalah tahfiz Alquran. Sementara untuk tafsir, baru didalaminya selama dua tahun.

“Kesannya (tafsir) menjadi tantangan buat diri sendiri. Tahfiz dan tafsir itu beda cara pelatihannya. Bila tahfiz lebih kepada pehapalan seluruh isi Alquran, sementara tafsir mencakup latihan hapalan dan proses pendalamannya.

Kami dituntut mendalami isi Alquran, kandungan maknanya, terjemahan Alquran, Asbabun Nuzul (asal-usul suatu ayat diwahyukan) dan masih banyak lagi.

Jadi Alquran itu MasyaAllah, janji Allah SWT yang sangat indah. Sangat luas isinya,” urainya. (*)

To Top

You cannot copy content of this page