
Hal ini yang menurutnya mengakibatkan penurunan daya dukung lingkungan yang masif di Jakarta. Kemudian dipilihlah IKN di Kaltim.
“Karena memiliki aksesibilitas tinggi, dekat dengan dua kota besar, Balikpapan dan Samarinda,” ujarnya.
Dengan struktur kependudukan heterogen dan terbuka, potensi konflik yang rendah, serta pertahanan yang dapat didukung oleh Trimatra. Darat, laut dan udara.
Kaltim juga dianggap memiliki kemampuan lahan untuk konstruksi bangunan, juga lokasi yang akan dan minim bencana. Lahan yang tersedia luas dan berstatus hutan produksi dan perkebunan.
Apalagi dengan infrastruktur jalan Tol Balikpapan -Samarinda. Juga trans Kalimantan, dan bandara di Balikpapan dan Samarinda. Pelabuhan Peti Kemas Kariangau, Pelabuhan Semayang.
“Juga ketersediaan air baku dari tiga waduk eksisting. Juga empat sungai dan empat daerah aliran sungai, serta berada dalam jalur ALKI II, Selat Makassar,” sebutnya.
Ia menjelaskan, dengan lokasi yang strategis tersebut, IKN sama dengan kota sekitarnya akan mampu membangun sinergitas untuk pembangunan ekosistem penggerak ekonomi masa depan.
“Provinsi Kaltim yang berperan sebagai paru-paru dengan memperkuat pertanian hulu dan pusat wisata alam. Juga Samarinda sebagai jantung dengan peran sebagai pusat sejarah Kaltim dengan sektor energi terbarukan. Balikpapan sebagai otak yang berfungsi sebagai simpul hilir migas dan logistik untuk Kaltim,” ungkapnya.
Nantinya IKN akan jadi syarat bagi wilayah pemerintah pusat. Juga pusat Inovasi hijau. Sehingga sinergitas akan jadi pemicu pembangunan Indonesia Timur.
“IKN dengan tiga visi sebagai kota berkelanjutan di dunia, simbol identitas bangsa Indonesia, penggerak ekonomi Indonesia masa depan,” pungkasnya. (*)



