
KOTAKU, BALIKPAPAN-Dinas Kesehatan Kota Balikpapan (DKK) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Mekar Sari, Kecamatan Balikpapan Tengah menyampaikan komitmennya untuk melakukan penjangkauan aktif dan pendampingan intensif bagi warga yang terindikasi reaktif HIV.
Pendekatan ini dilakukan sebagai langkah strategis menekan penyebaran HIV-AIDS sekaligus memastikan setiap warga mendapatkan perawatan tepat dan berkelanjutan.
Tenaga Medis Puskesmas Mekar Sari dr Siti Fatimah, mengatakan bahwa hasil pemeriksaan HIV keluar saat hari yang sama.
Karena itu, apabila ditemukan warga dengan hasil reaktif, tindak lanjut bisa dilakukan segera berdasarkan data kontak yang sudah dicatat saat pendaftaran.
“Jika ada yang terindikasi reaktif 1, kami langsung Follow Up melalui kontak yang terdaftar. Pasien kemudian kami arahkan ke puskesmas PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan) pilihan, apakah Mekar Sari, Prapatan, Klandasan, atau lainnya,” jelasnya usai kegiatan pemeriksaan HIV-AIDS gratis di kawasan Lapangan Merdeka, yang digelar Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Minggu (30/11/2025).
Setelah diarahkan, pasien akan menjalani rangkaian tes lanjutan R1, R2, dan R3. Ketiga tahap ini diperlukan untuk memastikan diagnosis karena satu kali hasil reaktif belum cukup untuk menetapkan status positif.
“Reaktif 1 memang sudah mengarah sekitar 90 persen menuju positif, tapi tetap harus diperiksa ulang. Jika hasil R1, R2, dan R3 semuanya reaktif, barulah dinyatakan positif,” kata dr Siti.
Bagi pasien yang akhirnya terkonfirmasi positif, Puskesmas segera memberikan terapi antiretroviral (ARV). Pengobatan ini didukung pendampingan dari petugas lapangan serta pendukung sebaya, yang berperan memastikan pasien minum obat dengan teratur dan memahami cara menjaga kondisi kesehatannya.
“Kalau reaktif, kami obati langsung dan dampingi prosesnya. Pasien tidak berjalan sendiri. Ada tim yang mendukung dari awal,” tambahnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa seluruh proses dilakukan tanpa stigma dan tanpa paksaan. Pasien bebas memilih puskesmas yang paling dekat atau paling nyaman untuk menjalani perawatan.
Mekanisme jemput bola, pendampingan berkelanjutan, serta pemantauan yang terstruktur, diharapkan seluruh pasien yang terindikasi reaktif dapat segera mendapatkan penanganan. Upaya ini diharapkan mampu menekan risiko peningkatan kasus HIV-AIDS di Kota Balikpapan. (*)



