Metro

Sejak Awal Tahun 2021, PAD Sektor Pariwisata Tertahan Aturan PPKM Mikro

Salah satu tempat wisata di Kota Balikpapan yang terkena aturan PPKM Mikro (foto: kotaku.co.id/niken)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro di Kota Balikpapan masih berjalan, salah satunya penutupan obyek wisata. Pantai Segara Sari Manggar misalnya, hingga saat ini masih ditutup saat akhir pekan dan libur nasional. Kebijakan tersebut lantas mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Balikpapan dari sektor pariwisata.

“Selama PPKM Mikro berlaku sangat berpengaruh pada PAD, bayangkan sudah pertengahan tahun 2021 pendapatan kami baru Rp900 juta,” jelas Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan Doortje Marpaung saat ditemui di Pantai Segara Sari Manggar, Jumat (11/6/2021).

Ia menyebutkan jumlah penerimaan tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2020, yang mencapai Rp1,8 miliar. Hingga akhir tahun total penerimaan yang diperoleh Rp2,9 miliar. Sekalipun Covid-19 telah saat itu telah mewabah. Namun, penerimaannya ditopang siginifikan Covid-19 meluas. Tepatnya, Januari hingga awal Maret 2020.

“Sekarang saja masih (Rp900 juta) kalau rata-rata sampai satu semester ke depan (jumlah penerimaan sama), hingga akhir tahun 2021 (diprediksi) sekitar Rp1,8 miliar. Mulai awal tahun 2021 sampai sekarang PPKM mikro masih berlaku sehingga PAD kami juga tidak mungkin tercapai target,” paparnya.

Kondisi ini sangat jauh menurun dibandingkan ditahun 2020 lalu, karena Covid 19 masuk ke Balikpapan mulai akhir Maret 2020. Maka, PAD dari sektor pariwisata dapat terbantu saat bulan

Dengan demikian saat pembahasan APBD Perubahan nanti, Disporapar akan mengevaluasi target PAD sektor pariwisata sebesar Rp4,6 miliar

Walaupun demikian, Doortje menuturkan tidak bisa menjamin apabila PPKM mikro dilonggarkan pada sektor pariwisata akan mendongkrak PAD. Apalagi seperti diketahui bahwa tempat wisata menjadi lokasi banyak orang berkumpul, sedangkan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan tidak bisa terpantau secara terus menerus.

“Kerumunan (di tempat wisata) itu pasti terjadi. Tentunya kami menghindari muncul terjadi klaster, semisalnya klaster yang berasal dari Pantai Manggar,” pungkasnya.(*)

To Top

You cannot copy content of this page