
KOTAKU, BALIKPAPAN-Berkunjung ke Balikpapan, jangan cuma mampir ke pantainya. Cobalah sekali-kali menelusuri sisi sejarah Kota Minyak, julukan Kota Balikpapan, lewat Rumah Dahor Heritage.
Destinasi wisata budaya yang menyimpan cerita panjang tentang masa kejayaan Balikpapan tempo dulu.
Terletak di Jalan Dahor, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, rumah bergaya kolonial ini dulunya merupakan hunian para insinyur Belanda dari perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yakni cikal bakal Pertamina.
Dibangun sekitar tahun 1920-an, rumah ini menjadi saksi bisu awal mula industri perminyakan di Balikpapan.
Dahulu, kawasan ini memiliki 27 rumah panggung yang menjadi tempat tinggal para pekerja kilang minyak. Kini, tersisa sembilan bangunan yang masih berdiri kokoh.
Dengan dondasi batu, rumah panggung tersebut masih kokoh berdiri di tengah modernisasi Kota Balikpapan.
Kini, Rumah Dahor Heritage dikelola oleh Pertamina dan dijadikan museum mini yang terbuka untuk umum.
Di dalamnya, pengunjung bisa menemukan berbagai koleksi bersejarah seperti foto-foto lawas, perabotan antik, hingga dokumen penting yang menceritakan kehidupan masyarakat Balikpapan, masa kolonial.
Setiap sudutnya memancarkan nuansa nostalgia yang kuat, seolah membawa mundur ke masa lalu.
Menariknya, kawasan ini juga sering dijadikan lokasi acara budaya, pameran, hingga kegiatan edukasi.
Banyak wisatawan lokal hingga pelajar datang untuk mengenal lebih dekat sejarah perminyakan sekaligus menikmati suasana tenang.
Bagi yang suka berburu spot foto estetik, Rumah Dahor juga punya daya tarik tersendiri.
Arsitekturnya yang klasik berpadu dengan taman asri menjadikannya tempat ideal untuk foto-foto bernuansa vintage.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan dr Ratih Kusuma, menilai Rumah Dahor Heritage memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi.
Namun, untuk mengembangkan potensi itu perlu pengelolaan secara kolaboratif.
Ratih menerangkan, telah berkomunikasi dengan pengelola cagar budaya ini untuk mendorong pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Langkah tersebut bertujuan agar pengelolaan kawasan ini lebih terarah dan mendapat pembinaan langsung dari pemerintah daerah.
“Rumah Dahor ini wisata budaya dan peninggalan sejarah. Kami sudah berkoordinasi dengan pengurusnya dan berharap mereka bisa bergabung menjadi Pokdarwis agar bisa kami bina,” ujar Ratih.
Selain itu, keberadaan Pokdarwis nantinya sebagai pendukung program pembinaan dan promosi bagi Rumah Dahor.
Disporapar Balikpapan berencana mengikutsertakan pengelola dalam kegiatan seperti fam trip wisata, pelatihan pemandu, dan edukasi sejarah bagi pelajar.
“Setiap tahun kami melatih 20–30 Pokdarwis di Balikpapan. Jika Rumah Dahor bergabung, tentu akan kami prioritaskan dalam pengembangan SDM dan promosi,” pungkasnya. (*)



