Metro Advertorial

Tantangan MTBS Puskesmas Baru Ulu, Peran Ortu Jadi Faktor Penentu

kunjungan tim Puskesmas Baru Ulu ke rumah warga (foto:kotaku.co.id/ist)

KOTAKU, BALIKPAPAN-Program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat terbukti efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian balita.

Namun, tantangan utama muncul ketika balita sering datang berulang dengan keluhan yang sama, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau batuk pilek.

“Kadang penyebabnya adalah paparan asap dari orang tua atau kebiasaan anak mengonsumsi makanan tidak sehat,” jelas Perawat sekaligus Surveilans Puskesmas Baru Ulu Bidan Sitti Afdaliah, Sabtu (29/11/2025).

Afdal sapaan akrabnya menambahkan, faktor lingkungan dan pola hidup keluarga memiliki dampak besar terhadap kesehatan anak.

Anak yang sering terpapar asap rokok atau polusi rumah tangga memiliki risiko lebih tinggi sakit berulang.

Tenaga kesehatan di puskesmas dapat memberikan edukasi, pengobatan, dan terapi untuk setiap balita yang datang. Namun, keberhasilan pencegahan penyakit bergantung dengan peran aktif orang tua di rumah.

“MTBS efektif, tapi kalau orang tua tidak peduli, anak tetap berisiko sakit berulang. Edukasi, pengawasan, dan pola hidup sehat di rumah sangat menentukan hasilnya,” tambahnya.

Program MTBS mencakup evaluasi menyeluruh mulai dari gejala penyakit, status gizi, pertumbuhan, hingga tindak lanjut medis.

Setiap kunjungan balita dicatat dalam sistem digital e-Puskesmas, sehingga riwayat kesehatan anak dapat dipantau secara akurat.

Selain itu, orang tua diberi informasi tentang tanda-tanda peringatan, langkah pencegahan, dan tindakan yang perlu dilakukan jika gejala memburuk.

Langkah ini dianggap vital untuk memastikan balita menerima pelayanan yang optimal dan mencegah penyakit menjadi berat atau berulang.

“Keberhasilan MTBS bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi kolaborasi antara puskesmas dan keluarga.

Kami bisa memberikan pengobatan dan edukasi, tapi anak tetap sehat tergantung pengawasan di rumah,” sambungnya ramah.

Tantangan lain yang dihadapi tenaga kesehatan adalah frekuensi kunjungan berulang akibat kebiasaan lingkungan atau pola makan yang kurang sehat.

Edukasi yang berkesinambungan dan keterlibatan aktif orang tua menjadi solusi.

Ya, MTBS tidak hanya menjadi program pelayanan kesehatan tapi kini menjelma menjadi sarana membangun kesadaran orang tua dalam menjaga kesehatan anak.

“Kalau orang tua peduli dan mengikuti arahan kami, anak-anak bisa terhindar dari sakit berulang dan tumbuh dengan sehat,” tutupnya. (*)

To Top

You cannot copy content of this page