
KOTAKU, BALIKPAPAN-Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu kasus terbanyak yang dialami balita di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat.
“Jika ISPA ringan, anak bisa kembali setelah lima hari bila muncul keluhan lagi. Namun untuk pneumonia, pemeriksaan lanjutan dilakukan dalam 2–3 hari,” ujar Perawat sekaligus Surveilans Bidan Sitti Afdaliah, dijumpai di sela aktivitasnya, Kamis (27/11/2025).
Dia menjelaskan, penanganannya tidak hanya fokus pemberian obat, tetapi juga evaluasi ulang dan edukasi bagi orang tua, sehingga anak mendapatkan perawatan optimal dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Proses ini dilakukan secara terstruktur menggunakan form Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), yang mencatat seluruh tindakan, mulai dari terapi, konseling, hingga rujukan jika diperlukan.
Dengan sistem digital e-Puskesmas, pencatatan menjadi lebih cepat dan akurat, memudahkan tenaga kesehatan memantau kondisi anak secara menyeluruh.
Selain pengobatan, pendidikan bagi orang tua menjadi bagian penting dari penanganan. Orang tua diajarkan mengenali tanda-tanda peringatan, cara merawat anak di rumah, serta kapan harus kembali ke puskesmas.
“Tujuan kami bukan hanya mengobati, tapi juga mencegah penyakit berulang,” tambah Afdal sapaan akrabnya.
Pendekatan ini sejalan dengan program MTBS yang menekankan penilaian menyeluruh terhadap setiap balita yang datang ke puskesmas.
Penilaian tidak hanya mencakup penyakit, tetapi juga pertumbuhan, gizi, dan perkembangan anak, sehingga layanan menjadi lebih komprehensif.
Dengan strategi ini, Puskesmas Baru Ulu berharap angka kesakitan dan komplikasi akibat ISPA dapat ditekan, sekaligus memberikan layanan kesehatan anak yang optimal dan berkelanjutan.
Evaluasi berulang dan edukasi orang tua diharapkan membantu anak pulih lebih cepat, mencegah penyakit berulang, dan memastikan mereka tumbuh sehat sesuai usianya.
Afdal menegaskan, keberhasilan penanganan ISPA di Puskesmas bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan aktif dari orang tua. Dengan begitu risiko penyakit serius dapat diminimalkan. (*)



