
KOTAKU, BALIKPAPAN-Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Balikpapan tingkat Paud hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah berlangsung selama satu bulan.
“Kami bersyukur tidak ada kasus yang terjadi, artinya tidak ada kluster-kluster dari sekolah atau proses PTM. Kami patut bersyukur terhadap hal itu,” jelas Wakil Komisi IV DPRD Balikpapan Iwan Wahyudi saat dihubungi melalui sambungan seluler, Sabtu (21/11/2021) malam.
Legislatif PPP ini mengatakan, sejauh ini evaluasi yang diperoleh selama PTM berlangsung berjalan dengan baik. Tentunya, senantiasa perlu menjalankan kedisplinan protokol kesehatan (Prokes) secara bersama-sama antara pihak sekolah dan orang tua, agar saling mengingatkan disiplin menjalankan Prokes dalam PTM.
“Alhamdulillah, sejauh ini cukup baik. Jangan sampai menjadi kendur atau menjadi abai karena situasi penyebaran Covid 19 semakin turun,” ujar Iwan.
Lanjut legislatif dari Daerah pemilihan (Dapil) Balikpapan Utara ini menuturkan, proses PTM ini tidak 100 persen belajar dari Senin sampai Jumat , akan tetapi dalam sepekan hanya dua hari belajar tatap muka.
“Saya sebagai Wakil Ketua Komisi IV minta agar proses ini biarkan dulu berjalan seperti itu, nggak perlu dipaksakan lima hari penuh belajar tatap muka tapi cukup dua hari dulu. Toh, tiga hari juga belajar secara online,” terangnya
Jika nanti kondisi semakin membaik, dia berharap pembelajaran tatap muka dapat sepenuh berlangsung selama lima hari seperti sediakala.
Ditambahkan, untuk mencapai kurikulum dalam PTM ini meminta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kota Balikpapan agar mengefektifkan proses pembelajarannya. Pasalnya, saat ini era pembelajarannya yakni era adaptasi.
“Kami menginginkan modifikasi kurikulum kemudian penyesuaian kurikulum ke depan harus sesuai dengan target pembelajaran itu sendiri. Kami menyadari PTM itu sistem sudah beradaptasi terhadap pola hybrid (sebagian secara online dan sebagian secara offline),” serunya.
Disdikbud Balikpapan diimbau memiliki kurikulum mumpuni terhadap situasi. Berkolaborasi dengan pihak sekolah dan orang tua, sehingga sasaran indeks pertumbuhan kualitas itu bisa tercapai dengan baik.
“Kami tidak pasrah dengan kondisi ini. Kami terus melakukan inovasi-inovasi, Disdik harus terus senantiasa mendorong pihak sekolah bisa melakukan inovasi dan terobosan dalam mencapai target-target pendidikan,” ucap Iwan.
Harapannya, kurikulum yang berlaku saat ini harus sesuai dengan situasi dan kondisi masa pandemi ini. “Mudahan Disdik sudah melakukan inovasi terhadap kondisi-kondisi ini,” pungkasnya.(*)



