Faktor lain yang membuat biaya LRT Jabodebek mahal, masih menurut pengamatan BHS yakni penggunaan rel berukuran 1.435 mm yang biasa dipakai untuk KA kecepatan di atas 200 Km per jam. “Padahal kecepatan LRT maksimum 60-80 Km per jam sehingga cukup menggunakan ukuran rel standar 1.067 mm.
Sangat disayangkan jalur LRT dibangun 100 persen melayang (elevated) dengan tiang penyangga yang terlalu besar dan tinggi. Demikian juga semua stasiun dibangun ukuran yang terlalu besar dan jalur LRT tidak terkoneksi dengan jalur MRT dan terminal angkutan publik lanjutan lainnya seperti bus,” ulas BHS.
Padahal, lanjut anggota DPR-RI periode 2014-2019 memberi penilaian, pemerintah bisa membangun sejenis KLR Jabodetabek yang mempunyai kapasitas seperti yang ada saat ini, yaitu 1,5 juta penumpang per hari. Dengan rincian biaya jaringan rel ganda (double track) sepanjang 44.3 Km senilai Rp3 triliun, dan 100 rangkaian kereta dengan biaya Rp3 triliun sehingga total biaya Rp6 triliun.
“Pemerintah tidak belajar dari kegagalan proyek LRT Palembang yang menghabiskan biaya Rp10,9 triliun tetapi sampai sekarang sepi penumpang. Hingga kini, LRT Palembang masih disubsidi Rp119 miliar per tahun.
Akibat kesalahan pemerintah membangun LRT tanpa studi kelayakan yang benar, subsidi LRT Palembang dan Jabodebek harus ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia melalui APBN,” pungkas BHS. (*)



