Metro Advertorial

Vaksinasi Jalan Terus, DKK Balikpapan: Kasus Campak Sudah Nol

KOTAKU, BALIKPAPAN-Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan mengumumkan keberhasilan dalam menangani kasus campak melalui upaya vaksinasi yang masif digencarkan.

Sepanjang Januari-Juli tahun 2025, tercatat total 48 kasus campak di Kota Minyak, julukan Kota Balikpapan, dengan puncaknya terjadi pekan ke-20 dan ke 21, tepatnya Juni 2025. Masing-masing menyumbang sembilan kasus penyakit campak.

Namun, berkat respon cepat melalui program vaksinasi, kasus campak terus menurun, hingga mencapai nol kasus saat pekan ke-29 tepatnya Agustus 205.

Kepala DKK Balikpapan Alwiati menyatakan tidak ada laporan angka kematian akibat campak di Kota Minyak. Sehingga status kejadian luar biasa (KLB) tidak ditetapkan.

Sebelumnya, Balikpapan sempat menyandang status KLB penyakit campak sekitar tujuh atau delapan tahun lalu, tepatnya tahun 2017.

Alwiati menyebut, strategi Outbreak Response yang dilakukan menjadi kunci keberhasilan menangani kasus ini.

Termasuk program vaksinasi rutin telah berhasil menjaga jumlah kasus penyakit campak tetap rendah.

“Kami memiliki SOP yang jelas. Setiap ada kasus, kami telusuri sumber virusnya, periksa status imunissi, hingga mendeteksi kontak erat fisik seperti keluarga, dan teman sekolah.

Jika ada indikasi penularan, kami langsung lakukan vaksinasi yang fokus terhadap kontak erat tersebut,” jelasnya dijumpai di Balai Kota, Senin (9/9/2025).

DKK Balikpapan menegaskan pentingnya vaksinasi untuk membentuk Herd Immunity. Meski tidak menjamin 100 persen bebas campak, namun cenderung mengalami gejala yang jauh lebih ringan dibandingkan yang belum divaksin

“Beberapa kasus yang dialami individu yang tidak pernah divaksinasi itu tidak memiliki antibodi untuk melawan penyakit ini, sehingga diperlukan penangan lebih cepat,” ucapnya.

Sehingga, program vaksinasi terbukti efekti menekan jumlah kasus, terutama banyak terjadi dengan anak-anak dengan riwayat imunisasi tidak lengkap.

Misalnya karena tidak mendapatkan dosis booster atau absen saat bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) akibat sakit atau penolakan dari orang tua. Faktor lainnya adalah status Balikpapan sebagai kota terbuka, yang memungkinkan masuknya infeksi dari luar daerah.

Meski begitu, DKK Balikpapan telah gencar melakukan sosialisasi melalui media sosial, kelurahan, serta merespons cepat setiap ada laporan kasus dengan pemeriksaan dan vaksinasi ulang.

Dalam hal ini, orang tua diimbau untuk memastikan anak-anaknya mengikuti jadwal imunisasi lengkap.

Termasuk dosis booster, dan melaporkan gejala campak seperti demam tinggi atau ruam kulit untuk dilakukan penanganan secara cepat.

“Alhamdulillah, masyarakat Balikpapan juga sangat proaktif. Semua kasus yang kami tangani dapat terkendali karena msyarakat juga mendukung program vaksinasi,” pungkas Alwiati. (*)

To Top

You cannot copy content of this page