
Odol merupakan kondisi mengangkut muatan melebihi batas beban yang ditetapkan pabrikan ditiap kendaraan. Adapun kebijakan bebas Odol bertujuan untuk penegakan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berkaitan dengan lalu lintas dan angkutan di jalan.
Menurutnya tiap daerah tidak terlepas dari aksi Odol. Tidak terkecuali di wilayah kerjanya. “Tinggal bagaimana mengedukasi agar sadar bahwa Odol ada dampak (berbahaya) cukup signifikan,” jelasnya. Meski begitu lanjut dia menerangkan, tren Odol di Kaltim-Kaltara cenderung rendah. Tidak seperti pulau lainnya yang padat penduduk. “Karena memang populasi kendaraan tidak sebanyak pulau Jawa dan lainnya,” sambungnya ramah. Sekalipun jelang Ramadan seperti sekarang. Yakni momentum peningkatan kebutuhan konsumsi oleh masyarakat hingga berkali lipat sehingga memacu kiriman barang dari Pulau Jawa dan Sulawesi juga terdongkrak tajam. Seperti diketahui, mayoritas barang konsumsi masyarakat Kaltim pun begitu dengan Kaltara, dipasok dari luar daerah.
“Kalau dari trafik yang kami lihat di jembatan timbang memang sudah ada peningkatan,” jelasnya.
Terkait itu, Ketua DPC Aptrindo Balikpapan Risman Sirait membenarkan adanya peningkatan volume kiriman barang. Khususnya untuk kebutuhan konsumsi menjelang Ramadan.
“Sekarang ini sudah ada peningkatan 20 persen,” jelasnya. Namun ia memastikan, arus barang konsumsi yang masuk, terjadi satu bulan sebelum Ramadan. Itu untuk menghindari ledakan barang masuk dalam waktu bersamaan yang berpotensi terjadinya Odol.
Risman pun menegaskan dukungannya terhadap kebijakan bebas Odol. “DPC Aptrindo Balikpapan mendukung penuh kebijakan pemerintah, kami akan membuat contoh menerapkan Zero Odol. Kebijakan ini juga mulai disosialisasikan terutama dari Pelabuhan Karingau-Penajam, kami juga sering melintas (rute tersebut),” lugasnya. (*)




